Senin, 11 Juli 2011

Ultran Aqua Politur

Ultran Aqua Politur adalah pelindung kayu transparan dengan pengencer air (water based) yang khusus dikembangkan karena kepedulian terhadap lingkungan Ultran Aqua Politur cocok untuk memperindah elemen interior dan dapat juga digunakan untuk melindungi elemen eksterior seperti pagar, pergola, lisplang, kusen, pintu dan lain-lain dari sinar matahari maupun hujan.

Keunggulan
  • Ramah lingkungan (tidak berbau dan tidak beracun)
  • Mudah diaplikasikan dengan spray dan kuas
  • Tahan sinar matahari dan hujan
  • Mudah dicat ulang
  • Cepat kering


Prosedur Aplikasi
  1. Amplas dengan kertas amplas no. 180 searah dengan serat kayu. Untuk pemakaian eksterior tidak dianjurkan menggunakan wood filler karena pada kayu yang terekspos terhadap cuaca, adanya wood filler akan mengganggu adhesi AQUA POLITUR terhadap kayu.
  2. Untuk meningkatkan ketahanan cuaca, khususnya untuk kayu yang berpori-pori besar aplikasikan Ultran Penetran UPT-851 dengan kuas, biarkan kering, lalu amplas ambang dengan kertas amplas no.400.
  3. Kuaskan AQUA POLITUR dan biarkan kering. Kemudian amplas ambang dengan kertas amplas no. 400. Lakukan tahap ini 2 kali.
  4. Sebagai lapisan akhir, kuas atau spray AQUA POLITUR.

Warna-warna yang tersedia
1.Bali Yellow
2.Brown KJ
3.Candy Brown
4.Dark Brown
5.Mahony
6.SHP Brown
7.Solar Yellow
8.Teak
9.Walnut
10.Clear Gloss
11.Clear Dof
12.Akasia
13. Aqua Marine
14. Bright Yellow
15. Cherry
16. Chilly Red
17. Deep Black
18. Green Leaf
19. Light Walnut
20. Mahogany
21. Pinky
22. Violet
23. White Wash

Plywood (Tripleks)

Apa sebenarnya yang disebut dengan plywood? Dalam bahasa Indonesia disebut kayu lapis dan dalam bahasa sehari-hari para tukang kayu awam menyebutnya tripleks, walaupun sebenarnya lebih dari 3 lapisan. Di instansi pendidikan lain menyebutnya sebagai multipleks yang berarti beberapa lapisan.

Plywood terbuat dari beberapa lembaran tipis, atau lapisan yang arah seratnya disusun saling melintang antara lembaran bawah dengan lembaran bagian atas secara bersamaan dengan lem khusus di bawah tekanan besar sehingga didapatkan ketebalan tertentu. Lembaran-lembaran tersebut biasanya di peroleh dari proses pengupasan kayu log secara rotary. Dari proses ini diperoleh lembaran yang lebar dan panjang pada ketebalan yang kecil (0.3mm - 3 mm).

Dari konstruksi yang digunakan untuk membuat plywood, maka bahan ini sangat tahan terhadap resiko pecah/retak, melengkung atau melintir yang tergantung pula pada ketebalannya. Dimulai dari standar ketebalan 3mm, 4mm, 6,9,12,15,18mm dan seterusnya.

Pada awalnya plywood diproduksi karena kebutuhan akan papan lebar sangat besar dan apabila menggunakan kayu solid sangat beresiko tinggi terhadap efek penyusutan kayu (melengkung, melintir dan pecah/retak). Namun demikian plywood juga memiliki keterbatasan dalam ukuran panjang dan lebar.

Kelebihan plywood adalah karena daya tahannya terhadap penyusutan kayu dan ukuran panjang lebar yang tidak mungkin didapatkan dari kayu solid pada posisi kualitas yang sama.
Tetapi bukan berarti plywood punya daya tahan yang sama kuatnya terhadap cuaca. material ini hanya direkomendasikan untuk perabot di dalam ruangan (indoor). Kelemahan paling besar pada plywood terdapat pada sisi tebalnya. Sisi tebal plywood merupakan bagian yang paling mudah menyerap air dan permukaannya sangat kasar. Untuk mendapatkan kehalusan yang baik harus ditambahkan penutup sisi tebal.

Blockboard dan Teakblock

Blockboard
Lapisan utama blockboard adalah pada bagian tengah yang memiliki ketebalan 20-30mm. beberapa potongan kayu dengan lebar tersebut dilaminating dan dilapisi dengan beberapa vinir seperti untuk plywood.

Vinir tersebut disusun secara melintang serat untuk mendapatkan kestabilan dan kekuatan menahan penyusutan kayu. Lalu beberapa lembaran tersebut dilapisi lem dan dipres dibawah tekanan yang besar.
yang harus diperhatikan pada blockboard adalah arah serat. Blockboard masih memiliki kelemahan yang ada pada solid wood, lemah pada arah melintang serat kayu. Oleh karena itu perlu diperhatikan arah serat permukaan blockboard (arah serat permukaan sama dengan arah serat isian) pada waktu menggergaji ataupun mendesain peletakan papan blocboard.



Teakblock
Hanya satu perbedaan menurut pengetahuan teknis saya. Teakblock terdapat tambahan satu lapisan lagi pada satu permukaan blockboard untuk menambah nilai estetika, yaitu lapisan vinir kayu jati.

Walaupun demikian memilih dan mengerjakan teakblock tidak sama dengan jenis papan buatan lainnya. Dengan alasan utama pabrik membeli teakblock, ada beberapa syarat penting yang harus dipenuhi:

(1) Tidak boleh ada goresan benda tajam/tumpul di atas permukaan teakblock. Goresan tersebut akan terlihat setelah produk difinishing walaupun dengan warna gelap sekalipun.
Oleh karena itu penyusunan teakblock harus diperhatikan, permukaan teakblock yang berlapis jati harus bersentuhan dengan permukaan yang berlapis jati juga.
Mengapa?
Permukaan non-jati pada teakblock tidak menjadi prioritas sehingga kontrol dan penanganannya kurang teliti. beberapa lembaran bisa terdapat 'overlap' sehingga bisa menimbulkan goresan pada permukaan jati.



(2) Tidak boleh ada 'overlap vinir'. Vinir jati dibuat sangat tipis (hingga 0,3mm) dan diproduksi dengan metode slicing dari satu batang kayu jati solid. proses pelapisan pada teakblock bisa terjadi saling menumpuk, cacat ini sudah diantisipasi oleh pabrik teakblock, akan tetapi akan selalu ada produk yang memiliki cacat ini. Overlap membuat permukaan teakblock terlihat menggelembung dan tidak rata.

(3) Vinir terkelupas
Ketebalan vinir sangat tipis dan rentan goresan, sedikit saja benturan terhadap permukaan teakblock bisa membuat vinir terkelupas dan teakblock tidak bisa dipakai.

Seputar MDF

MDF dibuat dari batang kayu terutama bagian cabang (diameter kecil) atau jenis kayu yang tidak memiliki nilai kekuatan tinggi yang dicampur dengan bahan pengikat sehingga menjadi lembaran-lembaran papan. Proses produksi yang melalui begitu banyak langkah kerja menghasilkan beberapa hal yang bisa menimbulkan resiko bagi kesehatan kita sebagai 'end user' maupun sebagai produsen.


Debu
Pada setiap lembar MDF yang anda terima dari gudang distribusi anda bisa temukan lapisan tipis debu pada permukaan MDf. Debu tersebut sangat kecil ukuran partikelnya dan berpotensi menimbulkan asma terutama bagi pekerja di area produksi (pembelahan, pemotongan, amplas dan lainnya).
Atau pada furniture kantor, meja komputer dan kabinet TV yang baru saja anda beli, akan bisa ditemukan lapisan debu yang tipis (terutama pada bagian bawah). Resiko ini lebih besar akan berhubungan langsung dengan pekerja pabrik furniture. Oleh karena itu penting untuk diketahui dan dimengerti untuk senantiasa menggunakan jenis masker yang tepat bagi karyawan yang bekerja di area produksi.



Formaldehyde
Pada dasarnya, produksi papan buatan menggunakan lem yang dibuat dari resin Formaldehyde untuk merekatkan partikel kayu dan debu menjadi lembaran papan. Bahan Kimia Formaldehyde dikenal bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan dan bahkan paru-paru walaupun hanya pada level kontak yang rendah.
Menurut IARC (International Agency for Research on Cancer), sebuah sub organisasi dari WHO (World health Organization) menemukan bahwa debu kayu merupakan 'carcinogen'(penyebab kanker) dan Formaldehyde juga disebutkan adanya kemungkinan yang sama pada level carcinogen 3, yang berarti memiliki potensi untuk menjadi penyebab kanker, sehingga pada pemakaiannya harus diberikan pengganti apabila memungkinkan atau mengurangi pemakaiannya sekecil mungkin.



Bagi konsumen pemakai, apabila anda baru saja membeli sebuah set furniture almari atau meja kerja yang terbuat dari lembaran papan MDF atau partikel board lainnya, aroma khas akan keluar dari furniture anda dan kadang-kadang akan terasa pedih di mata apabila kita terlalu dekat terutama ketika membuka pintu. Itulah sebabnya sebaiknya apabila baru saja membeli almari yang terbuat dari bahan papan buatan, sebaiknya biarkan pintu-pintunya terbuka selama beberapa hari sebelum digunakan.

Standar Amerika dan Australia membatasi emisi Formaldehyde pada MDF maksimum 0.3 ppm (parts per million). Di jerman dan beberapa negara Skandinavia justru memberikan batas lebih rendah yaitu 0.1 ppm. Pengukuran kadar emisi Formaldehyde ini bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode khusus.



Tindakan Preventif
Pemilik perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan. Satu langkah yang bisa diambil adalah dengan 'hanya' menggunakan MDF E1 (low emission), yang berarti memiliki kandungan di bawah batas maksimum apabila memungkinkan. Beberapa produsen MDF saat ini juga telah mulai mempromosikan jenis MDF E1 yang sesuai dengan standar internasional.



Bagi Konsumen:
1. Biarkan pintu dan laci pada furniture yang baru saja beli terbuka tanpa digunakan selama beberapa hari atau minggu untuk 'melepaskan' kandungan Formaldehyde dari bahan papan buatan.
2. Tanyakan kepada penjual furniture tentang jenis MDF yang mereka gunakan. Untuk furniture menggunakan jenis E1 pasti lebih mahal.

Keunggulan BATA RINGAN / BATA HEBEL

Tahan api :
• Memiliki ketahanan api mencapai suhu 1000 ° C, membuat bangunan yang aman dari bahaya kebakaran.

Kedap suara :
• Lupakan kebisingan, dengan Bata Ringan , ruangan akan kedap dari kebisingan.

Tahan panas matahari :
• Bangunan mampu menahan panas terik matahari, sehingga menghemat penggunaan energi dan membuat ruangan lebih nyaman.

Tahan rembesan air :
• Tidak mudah untuk menyerap air, mengurangi masalah kelembaban pada dinding sehingga dinding bebas dari rembesan air.

Tahan gempa :
• Ringan akan mengurangi beban bangunan dan membuat bangunan lebih tahan terhadap gampa daripada menggunakan batu bata biasa.

BATA RINGAN / BATA HEBEL / BETON AERASI (Pengenalan)

Teknologi material bahan bangunan berkembang terus, salah satunya beton ringan aerasi (Aerated Lightweight Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/ AAC). Sebutan lainnya Autoclaved Concrete, Cellular Concrete, Porous Concrete, di Inggris disebut Aircrete and Thermalite.
Beton ringan AAC ini pertama kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Beton ringan AAC ini kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman di tahun 1943.  
Adonannya terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi). Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan yang dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan. Adonan beton aerasi ini lantas dipotong sesuai ukuran.
Adonan beton aerasi yang masih mentah ini, kemudian dimasukkan ke autoclave chamber atau diberi uap panas dan diberi tekanan tinggi. Suhu di dalam autoclave chamber sekitar 183 derajat celsius. Hal ini dilakukan sebagai proses pengeringan atau pematangan.
Saat pencampuran pasir kwarsa, semen, kapur, gypsum, air, dan alumunium pasta, terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Nah, rongga-rongga udara yang terbentuk ini yang membuat beton ini menjadi ringan.

Penggunaan Plafon (Asbes VS Tripleks VS Gypsum VS Fibersemen/Board)

Plafon Asbes

Plafon asbes sedapat mungkin dihindarkan, karena berisiko tinggi terhadap penyakit paru-paru yang berbahaya. Partikel asbestos yang sangat halus bila terhirup akan mengendap di paru-paru dan memicu asbesklorosis.
Sebenarnya plafon asbes tahan terhadap akibat kebocoran rumah.

Plafon Triplek

Plafon Triplek (1,2×2,4m), merupakan material plafon paling populer untuk menengah bawah. Variasi ketebalannya membuatnya semakin menarik menjadi pilihan para pemborong/kontraktor. Karena semakin memudahkan kontraktor menipu pemilik bangunan. Era 80-an, triplek yang lazim digunakan sebagai plafon memiliki ketebalan 5mm. Saat ini sudah beredar triplek dengan ketebalan 2,5mm. Ketebalan 2,5mm tidak layak dijadikan material plafon, karena sangat rapuh dan tidak awet. Kucing melompat diplafon dapat menjebol plafon triplek yang tipis tersebut.
Plafon triplek bila sudah terkena kebocoran, langsung ternoda dan sulit untuk di cat tembok (emulsi) agar kembali indah seperti semula. Bila sudah ternoda biasanya diakali dengan cat minyak, baru ditimpa cat tembok.
Ketebalan yang layak untuk plafon sebenarnya 4mm, kalau bisa 5mm, tetapi karena harga kayu sudah tidak rasional, konsumen dipaksa membeli ketebalan 3mm bahkan 2,5mm.
Plafon Gypsum
Plafon gypsum semakin populer menggantikan plafon triplek, karena bila pengerjaannya rapih bisa menghasilkan plafon yang licin mulus tanpa terlihat sambungan. Salah satu faktor utama yang mendongkrak kepopulerannya adalah sangat banyaknya variasi aksesori dan hiasan, mulai dari lisplang, hiasan tengah, hiasan sudut dll.
Tetapi gypsum memiliki kelemahan tidak tahan terhadap air, sehingga bila direncanakan mengaplikasikan gypsum, konstruksi atap rumah harus benar-benar tidak boleh bocor. Kebocoran akan menghasilkan noda pada plafon gypsum yang licin mulus.
Sisi positif lain adalah perbaikan plafon gypsum mudah dilakukan.
Plafon Fibersemen (GRC)
Produsen fibersemen juga memproduksi fibersemen untuk plafon, dengan ukuran sama dengan triplek 1,2 x2,4m, tetapi memiliki ketebalan 4mm.
Sifatnya yang keras dan kuat sangat cocok untuk diaplikasikan sebagai plafon, apalagi tidak mudah ternoda oleh kebocoran.
Teknik pengerjaannya sama dengan plafon gypsum, yaitu menggunakan Cornice (dempul) dan plester kertas.
My Great Web page